Karena Hujan



Siang yang bodoh karena hujan.

Siang indah sunyi ini, ku lihat keluar.

Suasananya seperti mati, hening, padam, dan ternyata mendung pun terasa.

Tak lama angin datang, dan semakin menguasai.

Membawa daun daun yang sudah jatuh, membawa serpihan debu yang mati kembali terbang entah kemana angin akan membawanya.

Gurauan orang pun tidak terdengar, mereka kembali masuk untuk melindungi dirinya.

Tiba tiba angin kencang itu datang dan bumi sejenak terdiam. 

Lalu.. air dari langit pun tidak perlu berfikir dan langsung membasahi bumi dengan cepat dengan cara air itu melangkah sesukanya.

Semua basah, air menjalar, orang menyebutnya hujan, Ditemani gerungan suara petir yang menakutkan dan dihiasi awan mendung yang sangat gelap.

Entah, manusia pasti akan menghindari ini. Dimanapun itu.  

Tapi tidak semua. 

Terkadang terlihat disudut jalan ada seseorang yang merasa acuh terhadap hujan.

Ia tidak peduli air yang membasahi tubuhnya, ia tidak peduli orang melihatnya dengan heran.

“Mengapa dia masih disitu padahal ia tau bahwa sekarang hujan dan dia harus menghindarinya karena akan membuatnya sakit?”

Entahlah, orang akan bergurau seperti itu. 

Tapi seseorang ini tidak peduli. Ia tak berlari. 

Ia tak tersentak. 

Ia diam, tenang, menikmati hujan yang membasahi tubuhnya. 

Ia menapak sendiri di jalan yang mati, dijalan yang hanya terlihat daun daun dan bunga disampingnya yang tersenyum karena air telah menemuinya dan membuat mereka kembali bermekaran.

Seseorang ini berporos pada satu titik, satu tempat, satu dimana ia sedang berfikir dan berkata,

“Apa yang aku lakukan? Apa yang sedang terjadi? Mengapa aku terdiam? Mengapa aku tak pergi untuk cepat berlari menghindari ini?”

Tak disengaja pun seseorang ini meneteskan air mata nya dan berkata,

“Aku tau ini hujan. Iya ini Hujan. Aku mencintai hujan.”

Seseorang ini tersenyum. 

Lalu, terlihat poros taman tak jauh dari seseorang ini yang sedang berjalan dan seseorang ini pun duduk dan bertanya.

 “Hai hujan." Mengapa kamu datang pada saat diriku ini sedang dihadapi masalah? Aku menyukaimu. 
Aku tenang. 
Aku seperti dibawa oleh angin mu yang menemani mu dalam airmu yang dingin.

“Hai hujan."
Seseorang ini tersenyum seperti ia lupa pada dirinya. 
Bawa aku bersamamu. 
Bersama keheninganmu. 
Bersama gurauanmu dengan angin. 
Yang selalu terlihat tenang saat kamu membasahi bumi ini. 
Aku ingin terlihat kuat sepertimu hujan, meski kamu kadang tak disukai oleh banyak manusia pada saat kamu membasahi bumi.”

“Hai hujan.. Kau dengar akukan?"

Seseorang ini semakin lupa pada dirinya. Dan pada akhirnya.. 

Seseorang ini pun tahu, hujan tidak akan menjawab gurauannya.

Petir pun mengeluarkan suaranya dan lalu, 

Ia sadar pada saat itu ia baru saja meredakan amarahnya, meredakan masalahnya dan kesedihan yang ada dipikirannya. 

Ia tersentak bangun dan….

Seseorang itu pergi menikmati hujan yang baru saja ia hiraukan. 

Dan seseorang  ini pun meninggalkan dari sudut taman yang ia tapaki,

Karena ia tau, ini bodoh dan ia tersenyum tenang dan tertawa kecil dengan apa yang ia lakukan tadi kepada hujan,

Yang hanya memang diam tanpa isyarat.

*****

Komentar

  1. bagus, ayo menulis... dengan menulis kita bisa curahkan segalanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih iko;)) Iko juga lanjutkan ya nulisnya;D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian dari mengenal Abraham Maslow dengan Kebutuhan setiap manusia diulas oleh Hendro dalam bukunya “Manusia Utuh”.