Bagian dari mengenal Abraham Maslow dengan Kebutuhan setiap manusia diulas oleh Hendro dalam bukunya “Manusia Utuh”.
Kebutuhan
untuk menjadi Manusia utuh, saya mencoba mengenal Maslow untuk hari ini.
27 September 2018 / 13.20 / Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta / Lt.4
Manusia Utuh
yang diulas oleh Hendro Setiawan. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil
untuk tetap mengenali siapa kita, siapa manusia yang sedang berlomba-lomba
untuk mencari kebahagiaan bahkan kedamaian dalam hidup.
Manusia Utuh,
sebuah kajian atas pemikiran Abraham Maslow dituliskan seperti membawa pesan
yang ingin disampaikan oleh Hendro Setiawan.
Beberapa
kutipan, yang saya rasa cukup untuk mempelajari lebih dalam apa yang terjadi
sebenarnya. Sadar akan masalah-masalah yang terjadi terkait setiap manusia
mencari kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, keindahan, atau apapun itu semua.
Kebutuhan setiap manusia agar bisa memaknai hidupnya.
Bahkan, manusia
itu sendiri tidak menemukan apa makna hidupnya? Apa tujuannya mereka ingin
tetap hidup? Ya, begitu rupanya sedikit mungkin terlintas di setiap pemikiran
orang banyak. Hal ini dapat dibuktikan berapa banyak orang yang mengalami
peristiwa yang menyedihkan atau menyenangkan untuk mereka sendiri, bahkan
mereka tega membuat dirinya mati karena tidak tahu apa yang mereka cari dalam
hidup ini. Atau mereka justru merasa damai karena dengan cara mengakhiri
hidupnya mereka menemukan jawabannya.
Ya, kebutuhan
akan menjadi Manusia seutuhnya, Maslow meminta agar setiap individu dari
manusia itu dapat mempelajari makna dinamis yang ada di balik simptom dirinya
agar lebih penting dan berguna. Individu diminta bertanya, dengan hirarki
kebutuhan yang dijelaskan oleh Maslow secara sistematis, memberi pesan bahwa
manusia adalah makhluk berkebutuhan yang jarang mencapai kepuasan penuh,
kecuali dalam waktu yang singkat. Hendro mengulas kebutuhan manusia tampak
mengatur, mengikat dirinya pada suatu hirarki potensi tertentu. Saya memaknai
pesan ini karena hakikatnya potensi yang dimaknai dari manusia itu sendiri
seringkali membawa dirinya terjerumus atau menikmati disetiap kebutuhan yang
ingin disampaikan. Hirarki kebutuhan Maslow yang akan meminta manusia sampai
pada tahapan tertinggi yaitu kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya.
Manusia harus
benar-benar menjadi apa yang ada pada sifat aslinya, ia dapat melakukan apa
yang harus dilakukan, kebutuhan untuk mewujudkan apa yang ada dipikirannya, apa
yang menjadi tindakannya. Ketika aktualisasi itu berhasil, diulas mengenai
penghargaan. Hendro mengulas pendapat Maslow bahwa penghargaan yang paling
sehat dan stabil selalu berdasar pada kelayakan dihargai orang lain dari
sekedar kebanggaan eksternal, menjadi terkenal atau sanjungan yang berlebihan.
Ya, kodrat
manusia untuk tetap tumbuh. Pengejaran dan pemenuhan kebutuhan yang lebih
tinggi membawa seseorang untuk memilih individualism yang lebih besar, lebih
kuat, dan lebih benar.
Pada beberapa
orang, Nampak ada indikasi bahwa penghargaan atas diri lebih penting dari pada
cinta. Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang ingin dianggap sebagai
orang yang kuat atau berkuasa, orang yang gila hormat, ketakutan, percaya diri
berlebihan atau agresif. Maslow menunjukkan bahwa orang-orang ini melakukan hal
itu untuk mencari cinta lebih daripada penghargaan atas diri sendiri.
Saya kira
pemikiran yang disampaikan oleh beliau melebihi apa yang mungkin juga pernah
saya rasakan. Ketika seseorang ingin mendapatkan penghargaan yang lebih akan
adanya seorang diri, atau dirinya sendiri. Mereka mencari lebih apa yang mereka
butuhkan, mereka butuh menjadi kuat, percaya diri, bahkan ketakutan karena
mereka sangat melakukan hal yang benar-benar ingin mereka dapatkan, dan mereka
menjadi mampu karena bisa mengatasi hal tersebut. Begitupun cinta yang tidak
lebih atas penghargaan diri sendiri melainkan bisa menjadi kelebihan tersendiri
untuk menyampaikan cinta tersebut secara tersirat, karena penghargaan atas diri
sendiri telah mewakili sifat-sifat yang dibutuhkan oleh cinta itu sendiri.
Sifat-sifat
tersebut kembali lagi, seperti kebutuhan yang ada di sekeliling hidup kita
sendiri.
“Pohon yang
butuh air, sinar matahari untuk tumbuh, proses yang berlangsung secara spontan,
mengalir begitu saja. Kodrat manusia mendorong manusia untuk selalu bertumbuh.”
Kemudian
setelah penghargaan atas diri sendiri, melainkan potensi manusia tersebutlah
yang sebenarnya menjadi perwakilan besar untuk merealisasikan dirinya.
Didalamnya pernyataan
tersebut diulas, realisasi potensi manusia bukan hanya membutuhkan perjuangan
keras dalam jangka waktu yang panjang, tetapi juga butuh pengalaman
penderitaan, bahkan tragedi untuk mencapai kematangan jiwa dibuktikan
pengalaman perjuangan yang panjang.
Begitupun,
banyak kegagalan individu untuk bertumbuh. Apa yang menghalangi manusia untuk
bertumbuh? Hendro mengulas : Pengelakan diri dari takdir, ketakutan terhadap
kebesaran diri, dan lari dari talenta terbaik diri. Hendro mengulas kembali
pernyataan Freud yang menyatakan bahwa ia menemukan penyebab sakit psikologis
terbesar, yaitu :
“Ketakutan
terhadap pengetahuan akan diri sendiri, akan emosi, impuls, kapasitas,
kenangan, dan takdir diri sendiri."
Hal ini
berkaitan dengan tarikan kebutuhan rasa aman manusia dengan tarikan pertumbuhan
yang seharusnya individu lakukan.
Orang yang
mengalami gangguan tidak saja sakit secara emosional, namun juga keliru,
katanya.
Pemikiran
individu cenderung terdistorsi atau menyimpang dari realitas, sehingga mereka
hidup dalam kebingungan, teralienasi terpisah dari realitas.
Saya mengerti,
pernyataan-pernyataan tersebut sebenarnya berkaitan erat mengapa manusia memang
seharusnya membutuhkan filsafat hidup, agama atau sistem nilai dengan cara yang
mungkin bisa dipelajari, karena kembali lagi ingin tetap tumbuh seperti setiap
manusia membutuhkan sinar matahari, kesehatan, yang didalamnya bisa dibilang
cinta kasih setiap individu.
Kebutuhan yang
mendominasi hidup, sebagian dari keutuhan menjadi manusia.
Paragraf akhir
dari tulisan ini, saya ambil kesimpulan sebagian yang telah dibahas mengenal
Abraham Maslow dalam buku Manusia Utuh menjadi inspirasi dan pengetahuan kita
akan diri sendiri dan kehidupan ini. Maslow menunjukkan bahwa :
“Kodrat
manusia dan tujuan hidup manusia adalah berproses dan berjuang mencapai tingkat
aktualisasi diri melalui tahapan kebutuhan secara hirarki memang dibutuhkan.”
Saya mengerti atau sedikit mengerti menjadi
manusia utuh butuh waktu yang panjang, bagaimana setiap individu bisa
memaknainya sendiri, memahami, mengerti apa proses dan perjuangan yang mereka
butuhkan, sehingga aktualisasi diri tersebut bisa dicapai dengan kepuasan
tersendiri, dengan menilai bahwa
“Aku telah menjadi manusia utuh menurut diriku sendiri". "Aku telah mengenali siapa diriku sendiri, siapa aku yang sedang berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan bahkan kedamaian dalam hidup.
“Aku telah menjadi manusia utuh menurut diriku sendiri". "Aku telah
Allahu alam.
Komentar
Posting Komentar